Iklan

Foto Hot Anak Sma Lagi bugil 2013

 Foto Hot Anak Sma Lagi bugil 2013

 

 


 
                                                         
 





Demikian posting dari Badboydjingan.Semoga bermanfaat . Jangan lupa di LIKE ya.TERIMA KASIH...! SEKIAN 4.5

Cerita dewasa : Aku Di perkosa saat balapan

Cerita dewasa : Aku Di perkosa saat balapan

cerita sex dewasa, cerita panas dewasa,cerita sex
Pagi-pagi sekali Herman mengajakku menemaninya ke polsek, awalnya aku tidak tahu apa tujuannya. Namun dalam perjalanan, Herman menceritakannya, bahwa Syamsul semalam ditahan polisi atas tuduhan perampokan dan pemerkosaan. Mendengar hal tersebut aku langsung shok, kenapa bisa Syamsul melakukan hal seperti itu. Dilema besar menghantui kami, hingga aku tidak tenang membawa mobil menuju polsek.

Sejak Herman menikah, kami sudah tidak melakukan hal bejat lagi, hanya usaha plus-plus saja yang kami pertahankan untuk menafkahi kami sehari-hari. Kelalukan seperti memperkosa atau merampok tidak pernah kami lakukan lagi, entah apa yang sedang merasuki Syamsul hingga ia nekat berbuat demikian. Semoga saja tuduhan itu tidak benar.

"Mungkin ke depan, saya mau tutup usaha kita man...", kata Herman. "Kenapa boss?", tanyaku. "Kita usaha yang positif saja man...", jawab Herman. Memang kulihat Herman sudah terlihat agak berbeda sejak ia menikah, mungkin ia sudah mulai bertobat dari segala dosanya. "Gue nyesal man, bisa kayak gini...", lanjut Herman sambil menundukkan kepalanya. "Hampir sampai boss...", aku coba mengalihkan pembicaraan, aku tak mau boss Herman bersedih, ia pasti berpikir dialah yang menjerumuskan kami semua.

Sampai di polsek, Herman lalu menemui polisi, mungkin mencoba untuk membebaskan Syamsul. Aku langsung minta ijin bertemu dengan Syamsul. "Satorman...", Syamsul memanggilku pelan dengan suara yang rendah. Raut wajahnya murung sekali. Ia lalu duduk depanku, "Maafkan aku bro...", katanya. Kemudian ia mulai bercerita apa yang terjadi dengannya.
***
Tiga hari sebelumnya Syamsul ditantang adu balap liar dengan seorang pemuda bernama Heru. Syamsul yang sudah yakin dengan settingan motor King nya pun tidak mau diremehkan. "Oke, kita taruhan!", tantang Syamsul balik. "Lima puluh juta!", tantang si Heru. Syamsul yang tidak memiliki dana sebesar itu pun bernegosiasi, "Taruhan motor saja...", kata Syamsul. "Yang kalah serahin motor balapannya saja!", lanjut Syamsul. "Oke, deal!" jawab Heru.

Syamsul mengenal Heru dari masa lalu nya yang sering ngumpul dengan geng motor. Syamsul sudah lama tidak pernah berkumpul dengan mereka lagi sejak ia buka usaha tambal ban kecil-kecilan, juga membantu menjaga tempat usaha Herman. Balap liar jarang sekali Syamsul ikuti, hanya saja ia sering membantu menyettingkan mesin para joki balap liar itu.

Malamnya tiba, para preman sudah mulai memadati jalan raya yang menuju luar kota, jalanan ini cukup sepi di malam harinya. Tepatnya jam 24:00, para preman sudah menutup jalan untuk sementara. Kiri kanan dipadati para biker jalanan yang clubnya tidak resmi. Rata-rata adalah motor modifan drag race, dari matik, bebek hingga moge.

Syamsul sudah bersiap-siap berlomba dengan Heru, sama-sama menggunakan motor King yang sudah disetting khusus balap liar. Nampak puluhan orang yang berada di kiri kanan jalan juga ribut untuk taruhan.
'Brrrmmmmmmmmm.....', suara motor mereka ketika distarter untuk memanaskan mesin. Seorang gadis maju ke depan untuk memberi aba-aba mulainya pertandingan, "GO!!!" teriak gadis itu. Syamsul langsung memacu motor nya dengan cepat. Beberapa detik saja Heru sudah tertinggal. Tanpa speedometer, Syamsul menerka-nerka bahwa kecepatannya telah mencapai 180kpj. Penonton kiri kanan terus bersorak, Heru yang tertinggal berusaha mengejar, namun selisih jarak mereka cukup jauh. Nampak settingan motor Syamsul jauh lebih unggul.
Heru terus menarik gasnya hingga full. Posisi mereka sudah kian mendekat. Heru memepet ke Syamsul yang masih unggul. Tampak di depan, garis finish sudah tidak begitu jauh, Syamsul terus memacu kuda besi nya, ia sangat berharap bisa memenangkan pertandingan ini. Selain hadiah yang diperoleh, nama bengkelnya pun bisa ikut naik pamornya.

Akhirnya Syamsul mencapai finish setelah tidak sampai satu detik disusul Heru. Syamsul tampak senang sekali, ia melepaskan helmnya lalu tersenyum ke arah Heru. Namun Heru nampak kesal, ia membuka helmnya lalu melemparnya ke arah Syamsul. "Hey! Lu pasti main bangsat ya?! Lu pakek ilmu hitam?!", tanya Heru dengan nada yang kasar. Di balap liar ini, sudah tidak heran, beberapa joki masih percaya dengan bantuan dukun. "Yang sportif dong!!!", teriak penonton ke arah Syamsul, mereka mengira apa yang dikatakan Heru adalah benar.
Lalu beberapa pria mendekati Syamsul, mereka adalah geng motor temannya Heru. "Bajingan, main bangsat juga lu ya?", kata kawanan itu. "Hey, kalian boleh ngecek, apa gue pake guna-guna atau enggak! Gentel dong! Kalau kalah ya kalah!!", balas Syamsul. Dikatain begitu malah membuat gerombolan itu marah. Mereka lalu memukuli Syamsul, beberapa orang mendorong motor Syamsul lalu berteriak, "Bakar!!!". Terlihat mereka yang kalah taruhan sangat tidak terima, mereka malah melampiaskannya pada Syamsul yang diduga menggunakan ilmu hitam.

Syamsul tak bergerak dipukuli, dan ia hanya bisa meratapi motornya yang sudah dilumat si raja api. "Motorku....", teriak Syamsul. Pria yang ramai itu pun meninggalkan Syamsul, mereka berbondong-bondong pergi dari sana dengan motor mereka, menimbulkan suara ribut knalpot racing motor gede mereka. Syamsul kaget dan segera mencari tempat persembunyian, karena ia mendengar suara sirene dari mobil polisi yang menuju ke arahnya. Polisi ramai sekali memadamkan kobaran api yang melahap motor King milik Syamsul, para polisi menyisir tempat itu untuk mengejar para pembalap liar. Syamsul hanya bisa mengintip dari persembunyiannya.
***
"Gue nyesal ikut balap liar man...", cerita Syamsul sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat terpukul sekali, kemenangannya malah membawa bencana besar bagunya. Ia kehilangan motor kesayangannya. Itulah dunia gelap, sesuatu yang tidak resmi tidaklah baik, balap liar seperti itu sudah sering menimbulkan keributan. "Lalu bagaimana kamu bisa dituduh merampok dan memperkosa bro?", tanyaku. Masih dengan muka tertunduk, Syamsuk mulai melanjutkan ceritanya.
***
Syamsul menaruh dendam dengan Heru, ia sudah merencanakan untuk balas dendam pada Heru. Keesokan malamnya, Syamsul sudah mengintai Heru, ia punya rencana untuk mencuri motor King nya sebagai ganti rugi motornya yang dibakar geng motor kawanan Heru. Syamsul yang tadinya menenggak minuman keras untuk menghilangkan bebannya kini sudah sedikit mabuk, ia melihat Heru membawa motor Kingnya berboncengan dengan seorang cewek yang diduga adalah pacar Heru, Syamsul yang menyewa ojek pun mengikuti Heru dari belakang.
Aneh, Heru malah masuk ke hutan, tempat yang gelap dan sunyi. Syamsul meminta ojek meninggalkannya di depan, lalu ia berjalan masuk hutan secara mengendap-ngendap. Terlihat motor King Heru terparkir di dalam, dan ada sebuah pondok kecil di dalam hutan itu. Ternyata Heru ingin berpacaran di tempat sepi seperti dalam hutan yang sunyi tanpa gangguan siapapun. Syamsul pun mengendap-ngendap dengan membawa sebuah belati dan berbekal seutas tali, ia sudah tidak tahan ingin meluapkan emosinya.
"Halloooo soobaaatttttt....", sapa Syamsul yang tiba-tiba muncul dari balik semak belukar. Heru langsung kaget, kemunculan Syamsul menghentikan kemesraannya berciuman dengan pacarnya. Suasana yang gelap hanya diterangi cahaya rembulan membuat Heru sedikit sulit melihat sosok di balik kegelepan itu, "Syamsul?...", Heru memastikan.

"Ha ha ha ha ha...", Syamsul tertawa terbahak-bahak, "Gue mau ambil hasil taruhan gue...", kata Syamsul. Heru kaget bukan main, ia terlihat salah tingkah karena sedang pacaran di tempat gelap. "Lu ngapain di sini?!", teriak Heru yang sontak langsung bangkit. Pacar Heru terlihat takut dan langsung bersembunyi di belakang Heru. "Serahin motor lu, atau gue bunuh?!", ancam Syamsul. "Kampret! Enak aja..." jawab Heru yang langsung menyerang Syamsul. Sayangnya Syamsul sangat gesit, dengan beberapa pukulan saja Heru langsung dengan sekejap bisa dilumpuhkan.
"Masih mau melawan?", tanya Syamsul yang langsung mengikat Heru dengan tali yang ia bawa. "Lepasin gue kampret!", teriak Heru yang masih mencoba melawan. "Lu mau gue bunuh coy?!", ancam Syamsul dengan mendekatkan belatinya ke leher Heru. Heru langsung diam, namun terdengar isak-isak tangis pacarnya. "Wew, cantek juga cewek lu coy?", kata Syamsul yang melihat ke arah pacar Heru. "Ambil aja motor gue! Lepasin kami!!", Heru berteriak. "Hmmm... Kayaknya gak sebanding coy...", Syamsul melihat gadis itu sambil menenggak ludah.

Gadis itu masih ABG, mungkin umuran tujuh belas tahun, rambutnya lurus panjang, tubuhnya pun mungil seksi. "Siapa nama lu?", tanya Syamsul kepada gadis itu. "Milaaa..... bangg...", gadis itu menjawab dengan ketakutan. "Hmm, Mila... Nama yang bagus...", kata Syamsul. "Lu boleh bunuh gue, tapi lepasin dia!", teriak Heru. Syamsul lalu memandang ke arah Heru, dengan muka kesal Syamsul lalu meninju perut Heru yang terikat tak berkutik. "Lu mikir ga sama keadaan gue?", tanya Syamsul. "Oke... Oke... Lu ambil aja tuh motor...", jawab Heru. "Enak aja lu ngomong...", Syamsul kesal langsung menampar Heru. Pacar Heru terus menangis melihat Heru diperlakukan seperti itu. "Itu motor hadiah menang taruhan... Kampreettttt.... Lu masih ngutang satu motor lagi buat gantiin motor gue yang kalian bakar...", kata Syamsul. "Terus, harga diri gue lu juga mesti bayar... Kampreettttttt.... Dikeroyok orang, terus dituduh pakai ilmu hitam...", lanjut Syamsul. "Kini gue mau liat harga diri lu gimana...", kata Syamsul yang langsung mendekati Mila.
"Woi, lepasin dia!!!", teriak Heru. "Oke... Oke... Gue bayar... Gue tambahin jadi tiga motor sekalian buat lu...", Heru mencoba menawar. Syamsul lalu balik ke arah Heru, bukan melepaskannya, Syamsul malah menutup mulut Heru dengan sapu tangannya. "Hmmm... Hmmm.....", Heru coba berteriak dengan mulut yang tertutup sapu tangan. "Lu diam aja, jangan berisik, nikmati aja perasaan lu...", kata Syamsul yang kemudian kembali berbalik ke arah Mila.
"Ja....jangaannnnn baannggg....", gadis kecil itu memohon. "Kalau kalian mau hidup, lu mesti layani gue...", ancam Syamsul dengan memainkan belatinya. Mila malah terus menangis ketakutan. "Woi woi.. Lu mau liat gue bunuh cowok lu??...", ancam Syamsul. "Jaannngaaaannnn baanngggg.... Hiikkkksssss....", jawab Mila. "Kalau gitu, sekarang lu buka semua pakaian lu!", perintah Syamsul.

"Hmmmm hmmmm hmmmmmm.....", Heru mencoba melarang Mila. Syamsul terus memainkan belatinya hingga Mila ketakutan. Tidak ada pilihan lain, Mila dengan terpaksa memenuhi permintaan Syamsul. Heru masih terus mencoba berontak dan berteriak, namun usahanya hanya sia-sia saja. Dengan wajah yang bercucuran air mata, Mila pelan-pelan membuka baju kaosnya, ditariknya dengan perlahan hingga kaosnya ke atas dan terlepas. Buah dadanya yang belum begitu besar terlihat segar ditutupi bra berwarna pink.
Syamsul menjulurkan lidahnya, menandakan ia sangat menikmati pemandangan indah di depannya itu. Lalu Mila mulai membuka resleting celana jeansnya. "Ayo cepet... Apa mau gue yang bukain?!", kacau Syamsul. Mila takut sekali, ia lebih memilih melepaskan sendiri daripada harus dilepaskan oleh Syamsul. Celana jeans birunya pun perlahan-lahan ditarik ke baeah, hingga tampak celana dalam Mila yang berwarna pink, dengan motif bunga yang cantik. Kini Mila hanya mengenakan bra dan celana dalam, ia berusaha menutupinya dengan tangan, namun Syamsul melarangnya, "Woi, gue minta lu bugil!!", teriak Syamsul. Sontak saja Mila kaget, masih dengan raut wajah sedih, ia perlahan melepaskan bra nya sendiri.
Heru masih terus berontak, suaranya tidak kedengaran, Syamsul pun sudah tidak memperdulikannya. Mila sudah melepaskan bra pink nya, susunya yang segar itu terlihat indah, putingnya merah muda dan masih kecil. Dengan sebelah tangannya ia berusaha menutupi dadanya, sebelah tangannya lagi menarik celana dalamnya turun. "Gak perlu malu-malu... Cukup gue aja yang dipermaluin cowok bangsat lu itu...", kata Syamsul.
Kini Mila sudah telanjang bulat setelah berhasil membuka celana dalamnya. Dengan kedua tangannya ia berusaha menutupi dada dan kemaluannya. Sekilas terlihat oleh Syamsul, sela di antara paha Mila yang masih jarang bulunya. "Woi woiii......", Syamsul bermaksud agar Mila tidak menutupi dada dan kemaluannya. Mila kembali menangis, "Jangan apa-apain gue bannngggg...", pintanya sambil menurunkan tangannya. Syamsul tidak menggubris, ia hanya memplototi tubuh Mila yang indah itu.

"Lu bisa nari ga?", tanya Syamsul ke Mila. "Gaaa... a... gaa biiiss...saaa bannggg...", Mila menjawab dengan ketakutan. "Makanya belajar... Mau gue ajarin??", tanya Syamsul. Tak mau menjawab Syamsul, Mila lalu coba berjoget, ia ketakutan, badannya gemetaran, ini lebih baik pikirnya daripada harus diajarkan Syamsul. "Nah, tuh bisa....", singgung Syamsul sambil bertepuk tangan. Mila menggerakkan tubuhnya, dari tangan sampai ke kaki bergoyang. Syamsul lalu mengeluarkan hp nya, lalu memainkan musik disco. Mila berjoget dengan tubuh yang gemetaran, wajahnya masih dipenuhi air mata yang terus mengalir. "Jangan nangis donk, cup cup cup, tar cantiknya gak keliatan...", olok Syamsul.
Mila terus bergoyang, hingga ia sedikit capek dan memelankan gerakannya. "Kalo capek, istirahat aja... Sini gue pijitin...", kata Syamsul. Mila langsung pucat ketakutan, "Janngaannn baannnggg....", Mila menghentikan gerakannya dan kembali menangis dengan kencang. "Sini, gue cuma mau lu bukain pakaian gue!", Syamsul memerintahkan Mila. Heru masih terus berontak walaupun ia tahu usahanya sia-sia. Mila tidak berani mendekat hingga Syamsul kesal kemudian berteriak, "Lu mau gue bunuh?!", ancamnya sambil mengarahkan belatinya.
Perlahan Mila mendekati Syamsul, "Nah gitu dong, anak baik....", olok Syamsul. Kancing bajunya satu per satu dilepas oleh Mila. "Dilihat dari dekat, ternyata Mila sangatlah cantik...", rayu Syamsul yang diam membiarkan Mila melepaskan pakainnya. Mila memalingkan wajahnya, ia takut memandang tubuh Syamsul yang dipenuhi tatto itu. Baju Syamsul yang hanya selapis sudah terbuka, kini giliran celana jeans nya yang terkoyak di sebelah lutut. Mila melepaskan kancing dan membuka resleting celana jeans Syamsul, lalu pelan-pelan ditariknya turun ke bawah.
"Mila mau gak jadi pacar abang?", tanya Syamsul. Mila tidak berani menjawab, wajahnya masih memaling kesebelah, ia tak mau memandang ke depan, di mana celana jeans Syamsul sudah turun, dan menampakkan penisnya yang mengeras dibalik celana dalam kumalnya. "Gak apa-apa, Mila pikirkan saja dulu...", lanjut Syamsul.

Kini tubuh Syamsul hanya mengenakan celana dalam abu-abu kumal saja. "Lanjutin dong...", perintah Syamsul. Mila pelan-pelan menarik turun celana dalam Syamsul hingga penis besarnya menyembul keluar. Mila ketakutan tak ingin melihat benda itu, mungkin jijik baginya, karena Syamsul yang urakkan, penisnya berbau pesing. "Mila kok gak mau lihat?", tanya Syamsul. Mila terus meneteskan air mata, dengan terpaksa ia pun memandang ke depan, ia sedikit takut dengan penis besar Syamsul yang berbau pesing.
"Jangan malu-malu, kalau penasaran, pegang saja...", kata Syamsul bermaksud menyuruh Mila memegang penisnya itu. Mila sangat ketakutan, tangannya gemetaran diarahkan ke penis Syamsul. 'Hmmm.... Hmmmmm...', suara teriakan Heru yang tak kedengaran. Mila akhirnya dengan terpaksa memberanikan diri menyentuh penis Syamsul. "Nah, gitu dong... Dikulum aja kalo haus...", kata Syamsul. Dengan tangan yang masih gemetaran, Mila menyentuh penis Syamsul. Mila terlihat jijik memegang penis Syamsul, ia hanya menyentuh dengan ujung jarinya. "Milaaaa.....", suara Syamsul menekan Mila. Penis Syamsul akhirnya dipegang Mila, lalu Syamsul menuntun tangannya untuk mengocok penis Syamsul. Mila mulai mengocok penis Syamsul dengan perlahan, walaupun tangannya gemetaran, tapi ia sudah membuyarkan rasa jijiknya.

"Bagus... Teruskan sayang....", kata Syamsul. Mila terus mengocok penis Syamsul dengan pelan, ia bergantian tangan ketika capek mengocoknya, tangan kiri lalu dengan tangan kanan. "Kalo capek ya pake mulut aja sayang...", kata Syamsul. Jelas saja Mila takut, ia sangat jijik dengan penis Syamsul yang bau pesing itu, apalagi kalau harus memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Mila terpaksa terus mengocok penis Syamsul dengan kedua tangannya, walaupun tangannya sudah terasa sedikit sengal.
Heru sudah menyerah akan usahanya, mulutnya yang tertutup sapu tangan tak mampu berteriak, lagian kalau pun dia berteriak, tidak ada yang mendengar, karena Heru tau mereka dalam tengah hutan. Lokasi ini memang dipilih Heru sebagai tempat pacaran, karena sangat sepi, bahkan mereka bisa berbuat mesum tanpa diketahui siapapun, tempat yang aman dan gratis pikirnya. Kinu Heru hanya bisa pasrah, dengan berlinang air mata, ia tak mampu melihat derita pacarnya.

Syamsul kemudian menjambak rambut Mila, ia mulai bosan kocokan tangan Mila, ia ingin Mila mengocok penisnya dengan mulatnya. "Pakek mulut dong!", perintah Syamsul langsung menjambak rambut Mila agar wajah Mila mendekat ke penisnya. Mila ketakutan, pipinya yang basah dengan air mata kini menyentuh penis Syamsul yang besar dan berbau pesing. "Ayo!!!", Syamsul memaksa dengan tamparan lembut di pipi Mila menggunakan penisnya. Mila pun dengan terpaksa membuka mulutnya, lalu Syamsul dengan memudah menyodorkan penisnya ke dalam mulut Mila.
Dengan mata tertutup Mila akhirnya mengikuti perintah Syamsul, ia biarkan penis Syamsul yang bau itu masuk ke mulutnya. "Bagus....", puji Syamsul menampar kecil pipi Mila dengan tangannya. Lalu Syamsul menjambak kembali rambut Mila, agar Mila memaju mundurkan wajahnya. Mila pun tidak ada pilihan lain, dengan sangat terpaksa ia belajar menyepong benda bau pesing milik Syamsul itu. Penis Syamsul terus kelua masuk di mulut mungilnya Mila. Sesekali Syamsul juga menahan kepala Mila, agar penis Syamsul terdorong masuk hingga ke tenggorokan Mila, membuat Mila serasa ingin muntah.

Cukup lama Mila menyepong penis Syamsul, hingga Syamsul sudah cukup bosan. Ia meminta Mila melepaskan sepongannya, agar Syamsul juga tidak cepat berejakulasi, ia tampak belum puas menikmati Mila. Lalu Syamsul membaringkan Mila di pondok kecil itu, Syamsul lalu menimpa nya. "Tadi Mila sedot punya abang, gantian abang sedot punya Mila ya....", kata Syamsul yang langsung menyedoti susu Mila. Dengan ganas Syamsul menyedoti susu Mila yang masih kelihatan kecil dan segar. Perlawanan Mila tak berarti, tangannya ditangkap Syamsul, hingga dengan sangat leluasa Syamsul menyedoti susu Mila. Lalu diciumnya di antara puting, hingga ke leher Mila, kemudian Syamsulpun melumat bibir Mila yang mungil itu. Bibir Mila menutup sehingga Syamsul memaksa dengan bibirnya agar mereka bisa berciuman, lidah Syamsul dijulurkan hingga menerobos masuk ke mulut Mila, dijilatinya bibir Mila. Lalu jilatan Syamsul bergerak ke leher, hingga kembali ke dada Mila.

Dua buah dada Mila yang segar itu terus dikenyot Syamsul tanpa henti. Mila hanya bisa menangis tanpa bisa melawan. Sedangkan Heru meratapi nasibnya, ia mungkin juga menyesal telah berurusan dengan Syamsul. "Suegerrrrr......", olok Syamsul ketika puas menikmati payudara Mila, ia sengaja menatap ke arah Heru agar Heru menderita melihat semua ini.
***
"Tenang bro, Herman pasti segera mengeluarkanmu dari sini...", aku memotong cerita Syamsul. "Tidak man, gue orang bejat... Gue pantas mendapatkan semua ini...", kata Syamsul. Ia sangat terpukul sekali, sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan, menginap di penjara. Herman masih bernegosiasi dengan kepala polsek, semoga saja Herman berhasil. Syamsul masih menundukkan kepala sambil meneteskan air mata, "Gue bejat man...", katanya yang kemudian melanjutkan cerita.
***
Ciuman Syamsul sudah mengarah ke perut Mila, kemudian berlanjut hingga ke selangkangan Mila. Syamsul menjilati bulu-bulu halus di sekitar vagina Mila. Tubuh Mila gemetaran, ia sangat takut sekali, "Jaangan peerkoosssa Mila banggg....", Mila memohon. Syamsul tidak memperdulikannya, ia menjilati daerah sekitar vagina Mila hingga Mila kegelian. Lalu Syamsul mencium vagina Mila, "Hmm, masih rapet...", kata Syamsul. "Udah pernah ngentot belum?", tanya Syamsul. Mila hanya menangis tidak berani menjawab. "Hahaha, gak usag munafik, paling-paling si jahanam Heru udah nodai lu juga...", kata Syamsul lalu melanjutkan ciumannya di vagina Mila. Lalu dijulurkan lidahnya untuk masuk ke vagina Mila. Tubuh Mila bergelinjang kegelian, Syamsul terus menjilati vagina Mila, terutama di daerah klitoris, sehingga Mila tak mampu menahan rasa gelinya.

Kini sambil menjilati klitoris vagina Mila, Syamsul menyodokkan jari telunjuknya ke vagina Mila. "Aughhhh.....", rintihanMila karena vaginanya dengan tiba-tiba ditusuk kasar oleh Syamsul. Mila terus bergelinjang kegelian, klitorisnya terus dijilati Syamsul dan vaginanya terus ditusuk dengan jari Syamsul. Mila tak mampu menahan rasa geli itu, karena Syamsul tak henti-henti membuat Mila merasakan nikmat.
"Hahaha, sudah mulai nikmat kan Mila?....", tanya Syamsul dengan raut wajah kegirangan. Ia terus menjilati klitoris vagina Mila, dan jarinya pun masih terus mengobok vagina Mila. "Umhmhhh...", desahan Mila yang ditahan, Mila nampak sudah terangsang namun ia menyembunyikan perasaannya, ia menggigit bibir bawahnya karena rasa nikmat dan geli sudah merasuki hingga ke otaknya.
Beberapa menit berlalu, "Sudah gak perawan?...", tanya Syamsul yang sudah menghentikan jilatannya, namun jarinya masih terus mengobok-ngobok vagina Mila. "Hmmmrmmrrr....", suara Heru tidak terdengar jelas. Mila pun hanya menangis, ia tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi padanya, ia hanya bisa pasrah. Syamsul lalu mempercepat gerakan jarinya, hingga Mila bergelinjang, matanya membelalak dan Mila akhirnya berejakulasi, air cair banyak bersemburan dari dalam vagina Mila. Ketika Syamsul mencabut jarinya, air itu pun bersemburan kemana-mana, membasahi tangan Syamsul.

"Hahaha, nikmatkan Mila?...", tanya Syamsul. Lalu ia mendekati Heru dan melapkan tangannya ke muka Heru. "Neh, buat lu...", lalu Syamsul juga melapkan tangannya ke baju Heru hingga tangannya kering.
Syamsul kembali mendekati Mila, "Sayang, ngentot yuk...", ajak Syamsul. Mila ketakutan, ia coba bangkit untuk berusaha menjauh. Mila berusaha kabur, ia berlari walaupun badannya sempoyongan, "Hey!", teriak Syamsul yang lalu mengejarnya. Tanpa berbusana mereka berkejaran, namun karena kondisi Mila yang sedikit tidak baik, ia pun terjatuh, dengan mudah Syamsul mendapatkan kembali mangsanya itu. Rambut Mila dijambak dan ditarik agar mengikutinya kembali ke pondok. "Mau kabur ke mana lu?", tanya Syamsul lalu menghempaskan badan Mila ke pondok.
Mila terus menangis, ia ditendang dengan keras oleh Syamsul tepat di perutnya, "Lu mau gue bunuh?!", ancam Syamsul. Lalu ia kembali menjambak rambut Mila, lalu menampar pipinya. Mila menangis dengan kencang, air matanya tidak berhenti bercucuran. Syamsuk lalu memperhatikan Heru, "Jangan salahkan gue, ini semua salah lu!!!", kata Syamsul ke Herman.

Syamsul lalu menarik kaki Mila, kakinya dibuka lebar, lalu Syamsul tanpa aba-aba langsung menusukkan penisnya yang sudah mengaceng sedari tadi ke arah vagina Mila. "Arghghhhhh......", rintihan Mila ketika vagina sempitnya dijebol paksa oleh penis besar milik Syamsul.
***
'Waduh, napa gak ajak-ajak?' pikirku dalam hati. Mendengar cerita Syamsul bukan membuat aku iba, namun aku sedikit terangsang, penisku sedikit demi sedikit mulai mengeras. Namun aku tidak mau menyinggung perasaan Syamsul, aku pura-pura iba sambil mendengarkan ceritanya.
***
Syamsul mulai menggenjot pelan tubuh Mila. "Argh...", desahan kecil Mila terdengar jelas di dalam hutan yang sepi begini. Hanya dengan cahaya remang-remang sinar rembulan, Syamsul menikmari tubuh indah Mila. Tubuh Mila bergoyang seirama dengan genjotan Syamsul. 'Ceplok ceplok...', suara berasal dari gesekan penis Syamsul dan vagina Mila. "Asyik kan Mila?...", tanya Syamsul sambil berbisik ke telinga Mila. Hanya rintihan kesakitan bercampur desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Mila, ia di posisi yang sangat menyulitkan, merasa terhina namun juga menikmati sensasi seks yang tidak bisa dipungkiri baginya. Sungguh dilema besar bagi Mila, ia harus diperkosa di depan pacarnya sendiri.

"Oh oh oh...", desahan terus terdengar walaupun Mila masih terus meneteskan air mata. Genjotan Syamsul pun tidak berhenti, malah semakin kencang. Syamsulpun tidak hanya mengentotnya saja, ia juga melumat bibir dan payudara Mila. Tubuh Mila penuh cupangan, terutama di leher dan sekitar payudaranya. Puting susunya yang merah muda pun terlihat sedikit memar akibat digigit Syamsul. Bertubi-tubi serangan yang dilakukan Syamsul, remasan-remasan di daerah dada Mila terus bergulir, bahkan ia mencengkram erat susu kecil Mila itu hingga Mila menjerit kesakitan.
Tubuh Mila maju mundur bergerak seiring goyangan Syamsul. Terus menerus digenjot hingga Mila tak mampu bergerak lagi, badannya sudah loyo tak bertenaga. Syamsul tidak memperdulikannya, ia masih semangat menggenjot Mila yang malang itu. Sesekali ia memelankan gerakannya supaya ia tidak cepat mencapai ejakulasi. Sedangkan Heru sudah diam, ia juga capek berontak, tergeletak begitu saja tanpa gerakan berarti, tampak ia sudah lemas tak bertenaga.

Tubuh Mila dipeluknya erat, hingga dada mereka bersentuhan, bibir Mila terus dicium Syamsul, dan tidak henti Syamsul masih menggenjot Mila. Hingga Syamsul mencapai klimak, ia mencengkram erat tubuh Mila. "Jangannnnn.....", teriak Mila sambil mendorong Syamsul, namun usahanya percuma, Syamsul membiarkan penisnya berejakulasi di dalam vagina Mila. Spontan Mila langsung menangis dengan keras, Syamsul tidak peduli, ia terus memeluk Mila dan membiarkan penisnya tertancap di dalam vagina Mila.
***
"Syam...", sapa boss Herman mendekat ke arah kami, tampaknya negosiasi mereka sudah selesai. "Man...", balas Syamsul yang masih menundukkan kepala. "Gimana boss?", tanyaku ke Herman. Sejenak Herman hanya diam saja, lalu ia berkata, "Kami akan berusaha mengeluarkanmu dari sini...", Herman memberi semangat kepada Syamsul. Menangis, hanya itu yang bisa Syamsul ungkapkan. Lalu seorang polisi menghampiri kami dan mengatakan waktu jenguk kami sudah habis. Sebelum kami pergi, Syamsul hanya berpesan supaya kami kembali ke jalan yang benar.

"Apa harus kita lakukan boss?", tanyaku kepada Herman saat dalam perjalanan pulang. "Tak ada...", Herman menjawab dengan wajah yang murung. "Semua bukti sangat kuat...", lanjut Herman. "Kita cuma bisa membantu mencari pengacara hebat saja, setidaknya membantunya mengurangi masa tahanan", lanjut Herman.
Seminggu berlalu akhirnya sidang Syamsul dibuka, ia divonis penjara selama lima belas tahun atas tuduhan pemerkosaan dan perampokan. Semua bukti memberatkannya, pengacara yang Herman bayarpun tidak banyak membantu. Dari ceritanya memang sangat jelas, bukti dan saksi sudah tidak dapat dielakkan.
***
Syamsul menarik keluar penisnya dan membiarkan Mila terbaring bugil dengan vagina yang meneteskan sperma yang tersisa. Sebelum pergi, Syamsul sempatkan menendang Heru, disiksanya hingga puas, lalu dikencinginya pas ke wajah Heru. "Liat akibat perbuatan lu!", kata Syamsul. Motor milik Heru dinyalakan lalu dibawa pergi Syamsul, meninggalkan Heru dan Mila yang tak berkutik di dalam hutan.
Besoknya, Syamsul ditangkap di kiosnya, tanpa perlawanan Syamsul digiring ke polsek. Heru yang membuat laporan, ia tampak dengan muka lebamnya masih marah dengan Syamsul, sedangkan Mila dirawat di rumah sakit, ia divisum dan positif bahwa sperma Syamsul tertinggal di vaginanya.
***
Kami selalu mengunjungi Syamsul, dia adalah teman kami, dan kami tidak bisa meninggalkannya. Ironisnya dikunjunganku yang ketiga, ia meluapkan semua perasaannya, ia menceritakan sampai menangis. Syamsul sudah bertobat, ia akan kembali ke jalan yang benar, katanya ia akan bertanggung jawab pada Mila jika memang Mila hamil dan meminta pertanggungjawaban. Aku tidak bisa menceritakan kepada Syamsul, karena ku dengar Mila akan mengaborsi kandungannya jika ia ternyata hamil. "Man, kamu juga harus pikirkan masa depan, hidup sekarang ini tidak baik...", kata Syamsul. "Hidup di penjara tidak enak man...", lanjutnya bercerita. Kata Syamsul ruangannya dingin, ia hanya tidur beralas tikar, makanan cuma nasi putih dengan telur goreng, itu pun sering direbut teman satu selnya, yang lebih ironisnya lagi, penghuni sel sangat membencinya. Syamsul bercerita hingga menangis, di sini ia sangat tersiksa, para narapidana lain sering memberinya ganjaran, karena di sini pemerkosa adalah orang terkutuk. Penisnya sering dipukul oleh narapidana di sini, kadang dioleskan cabe, kadang juga menggunakan balsem, kadang penisnya ditarik paksa oleh napi lain hingga Syamsul harus merasakan sakit yang luar biasa di penisnya, itulah hukuman bagi seorang pemerkosa kata Syamsul. Mendengar ceritanya aku merasa ngeri, semoga pengalaman Syamsul bisa membuatku berubah dan tidak mengikuti jejaknya.Demikian posting dari Badboydjingan.Semoga bermanfaat . Jangan lupa di LIKE ya.TERIMA KASIH...! SEKIAN 4.5

Foto Hot dan Seksi Artis Indonesia 2013

Foto Hot dan Seksi Artis Indonesia 2013

Foto Hot dan Seksi Roro Fitria
Foto 2

Foto Hot dan Seksi Roro Fitria
Foto 3
2. Aura Kasih

Foto Hot dan Seksi Aura kasih


Foto Hot dan Seksi Aura kasih
Foto 2

Demikian posting dari Badboydjingan.Semoga bermanfaat . Jangan lupa di LIKE ya.TERIMA KASIH...! SEKIAN 4.5

Cerita Sex : Pesta Sex dengan para gadis


cerita sex dewasa, cerita panas dewasa,cerita sex

Cerita Sex : Pesta Sex dengan para gadis

Update Postingan Kali ini d-haniAkan Berbagi Informasi Terbaru tentang tentunya dengan Harapan semoga hendaknya Bermanfaat dan Berguna Bagi anda semua pengunjung Blog Ini  

"Fenny...", melihat kondisi anak gadis ku yang ternyata baik-baik saja membuat hatiku lebih tenang. "Ma... Fenny kangen...", dia lalu memelukku dengan erat. Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat aku dan Fenny berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi aku masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat bang Solihin yang lebih bobrok. Fenny memilih di sini, aku yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yang dari berbagai usia. Fenny lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Mamat dan Syamsul pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yang marak sebagai tempat transaksi narkoba."Yully...", aku memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini. Sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Herman, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskabku dari jeratan bang Solihin, kemudian ada Satorman, Mamat dan Syamsul yang tadinya menjemputku. Selain itu ada teman-teman Herman yang lain; Tono, Andi, Iskandar, Marwan, Budi, dan Eko. Serta tiga gadis pemijit selain Fenny; Ayu, Lisa dan Widya.

Mereka semua baik sekali dengan Fenny, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasanku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam. "Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..", ajak Herman agar aku bergabung dengan usahanya. "Kasihan juga si Fenny tidur sendirian...", lanjut Herman. Aku pun mengiyakan karena aku sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Fenny dan Satorman saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.

Aku pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Herman meminta Satorman menemaniku, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemputku, mau tidak mau Tono lah yang ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yang berlebihan, menatapku saja seperti menatap mangsa. Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuhku yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi aku adalah keturunan china, walaupun umurku sudah 32 tahun, namun aku tetap menjaga bentuk tubuhku.

Dalam perjalanan aku banyak berbincang dengan Tono, aku duduk di sebelahnya yang sedang menyupir. Sesekali ia meraba pahaku yang kebetulan aku menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Tono adalah sahabat Herman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Tono pun bekerja pada orang tua Herman. Karena rabaan lembutnya di pahaku membuatku sedikit terangsang, stidak ingin mengecewakannya, aku pun membalas meraba pahanya. Tono tersenyum girang, ku buca resleting celananya lalu ku keluarkan penisnya yang sudah ngaceng. Selama perjalanan aku mengocok penisnya dengab tanganku, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami. "Tar malam boleh dong temani Tono?", tanya Tono sebelum aku turun dari mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena aku terlalu berfokus pada masakanku, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Fenny yang membantuku di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria. "Yuk, kita bawa ke sana...", aku mengajak Fenny anakku untuk membantuku membawa masakan. Cukup kaget ketika aku membuka pintu ruangan kumpul. Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas pikirku. Namun lebih kagetnya lagi ku lihat Fenny membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya aku tidak lah awam dengan ini, namun tidak tega saja melihat anakku sendiri yang berbuat demikian.
Aku pun meletakkan masakan yang aku pegang di atas meja. "Ayo gabung...", aku ditarik Tono yang lalu memaksaku melepaskan pakaianku. Tanpa perlawanan, aku mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Fenny melayani bos Herman, aku melihatnya dengab jelas, Fenny menyepong penis Herman dengan nafsu. Sedangkan Ayu melayani Satorman dan Andi, Widya melayani dua sekawan alias Mamat dan Syamsul, sedangkan Lisa menyepong punya Iskandar dan Marwan. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Aku kemudian ditarik Tono, "Sepongin dong tante...", pintanya. "Awas, hyper tuh...", ejek Eko dan Budi yang sedang minun-minum.

Kumainkan penisnya yang mengeras itu, penuh nafsu Tono mencengkram erat rambutku agar aku terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipiku, sungguh benar Tono adalah seorang yang hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susuku. "Tante masih cantik...", ia coba merayuku agar aku semakin terangsang. Ku pandangi yang lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama. "Tante... Boleh gak Tono request?...", tanya Tono. Aku pun kemudian menghentikan seponganku untuk mendengar apa permintaannya. "Pengen model bondage...", lanjutnya sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya, melainkan meneruskan seponganku. Penisnya terasa hangat dimulutku, ku kulum dan ku jilat. Tono hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawabanku, sungguh pria yang hypersex.

Kulihat Eko dan Budi tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Herman yang berdua dengan Fenny, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Fenny tidak lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Fenny terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok penis Herman.

Di arah lain, Ayu sedang didoggie oleh Satorman. Andi tidak diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Ayu. Depan belakang diberi penis, terlihat Ayu juga sudah cukup profesional. Budi yang tadi minum bergabung dengan Marwan dan Iskandar untuk menikmati Lisa, ada yang mengentotnya, ada yang disepongnya, dan ada yang menyedoti susunya. Sama halnya keadaan Widya, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Mamat, Syamsul dan Eko. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vagina nya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.

Seponganku mungkin sudah membuat Tono sedikit bosan sehingga ia langsung mendorongku jatuh, dan lalu ia melumat susu ku dengan kasar. Tubuhku ditindihnya hingga aku sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumin seluruh tubuhku. Sambil menyedot susuku, Tono memainkan jarinya di arah vaginaku. Mungkin ia sedikit marah karena aku tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.
Puting susuku terasa perih, Tono seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vaginaku pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Aku hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Solihin juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu kasar. Tono lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantatku pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Tono pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali. "Sorry tante...", ia tersenyum padaku. Aku hanya berbaring lemas di lantai.

Kemudian Tono mengikat tanganku kebelakang sambil berbisik, "Tante pura-pura berontak saja...". Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, aku pun pura-pura berontak, aku menendangkan kakiku agar Tono menjauh. 'PLLAAAKKKK.....", Tono menampar pipi ku dengan keras hingga aku pun meneteskan air mataku. Sekujur tubuhku diikat dengan tali hingga aku tidak bisa bergerak, hanya kakiku saja yang dibiarkan mengangkang. Bukan hanya itu, Tono pun melakban mulutku dan kemudian ia pun mengeluarkan sextoy dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk penis besar.
Aku melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Tono pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vaginaku. "Hmmmmm....", aku tidak bisa bersuara, mulutku tertutup lakban, benda besar itu terasa tidak muat di vaginaku. Sakit sekali hingga aku kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vaginaku, berputar-putar seperti bergejolak. Tono tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susuku.

Aku tidak jelas memandang sekitar, mataku penuh dengan air. Kurasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya aku saja yang diperlakukan begini. Puting susu ku ditarik Tono hingga mancung ke depan. Aku juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatanku sudah muncrat keluar, membasahi sextoy dan tangan Tono, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sextoy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vaginaku pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.
Puas menyodokkan penis mainan itu, Tono akhirnya menarik keluar dari dalam vaginaku. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang ku lihat Tono akan memasukkan penisnya yang tidak begitu besar ke dalam vaginaku. Untuk mendapatkan sensasi, Tono menampar pipiku dan menjambak rambutku hingga aku hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulutku masih tertutup lakban.
Aku terus digenjot oleh Tono, badanku terasa sakit karena ikatan tali di tubuhku sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, kucoba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Herman, ia langsung menarik lakban yang menutupi mulutku dengan kasar, "Mama Fenny... Sepongin dong...", ia lalu mendekatkan penisnya ke mulutku. 'Hoek' mual sekali bagiku karena penisnya masih basah, karena barusan saja Herman menyetubuhi anakku Fenny, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus ku kulum penisnya itu. Badanku bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yang lain entah bagaimana, baik Fenny, Ayu, Lisa maupun Widya. Yang jelas, ini adalah pesta seks yang cukup melelahkan. Ku lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk dipojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya aku yang masih bermain cinta.
"Bos, Tono minta ijin semprot...", pinta Tono yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vaginaku. Herman mencabut penisnya dari mulutku, lalu Tono menggantikan posisinya, Tono mau aku mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulutku.

Mulutku sudah belepotan dengan sisa sperma Tono yang sebagian sudah tertelan, Tono pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang aku buat. Sekarang giliran bos Herman yang menggenjot vaginaku, dengan tubuh masih terikat, aku terus digoyang. Tak berhenti, kini Satorman datang bersama Andi untuk bergantian memintaku sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Fenny, Ayu, Widya dan Lisa. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuhku bergoyang mengikuti irama genjotan Herman, dan mulutku terus disumpal penisnya Satorman dan Andi.

Tak lama dari itu, kulihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Satorman dan Andi. Mereka mengerumuniku, menjamahku, dan meremas-remas buah dadaku.
Hanya Tono yang masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tidak istirahat, ia masih meminta Widya untuk memainkan penisnya. Sedangkan Ayu, Fenny dan Lisa menyantap makanan dan minuman yang tersisa. Seperti halnya Tono, Herman pun menarik penisnya dari vaginaku dan berejakulasi di mulutku. Kini giliran Satorman yang mengambil posisi Herman.

Aku sudah capek, vaginaku pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena aku barang baru bagi mereka. Aku sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka. Setelah Satorman, giliran Andi, seterusnya entah siapa lagi, aku sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran.
Ketika aku terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Fenny dikerumuni Syamsul, Andi, dan Tono, sedangkan Ayu menyepong Satorman sambil didoggie oleh Mamat, gadis lainnya si Widya dan Lisa sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Herman yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.

Aku tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, aku dibangunkan Fenny dan melepaskan ikatanku, aku pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai. "Habis mandi, siapin makanan ya ma... Bos Herman pergi jemput tamu...", pesan Fenny sebelum aku masuk ke kamar mandi.

"Huah... Capeknya...", desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuhku. Setelah ini aku harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Herman.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Herman yang ditemani Satorman belum kunjung pulang. Aku dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang ku siapkan tidak segar lagi. Tono dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersamaku di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini. "Fen, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih", aku meminta Fenny untuk membantuku. "Oke ma, mama istirahat saja...", jawab Fenny.
Aku pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Capeknya hari ini, aku pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiranku, karena aku belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Fenny anakku yang juga ikut berpesta.Demikian posting dari Badboydjingan.Semoga bermanfaat . Jangan lupa di LIKE ya.TERIMA KASIH...! SEKIAN 4.5